“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah” (Q.S. Al-Ma’arij, 19-20)
Menurut analisis saya, ayat ini menjelaskan bahwa memang sudah sifat alaminya manusia yang apabila ditimpa musibah, maka manusia akan berkeluh kesah. Jadi, menurut saya ungkapan:
“Dasar tukang ngeluh!” atau “Bisanya ngeluh aja!”
adalah kurang tepat, karena berdasarkan ayat tersebut, mengeluh itu manusiawi.
Nah yang sebenarnya jadi masalah adalah:
“Kemana atau kesiapakah orang tersebut seharusnya mengeluh?”
Sebuah filosofi yang sering saya lupakan:
“Kalo kita tidak memulainya, ya kita tidak akan bisa menyelesaikannya”
Ya, terkadang memang “memulai” itulah fase tersulit dalam menyelesaikan sebuah masalah
Guru yang baik adalah guru yang telah menyediakan solusi dari masalah atau ujian yang diberikannya.
Sebaik-baiknya guru adalah Allah SWT yang selalu menyediakan solusi dari masalah atau ujian yang diberikan-Nya.
Dan sesungguhnya, jawaban dari ujian-ujian kehidupan kita itu sudah berada dekat sekali dengan kita. Tapi sayangnya, kebanyakan jawaban tersebut tidak terlihat karena terhalang kemaksiatan yang telah kita lakukan.
Wallahu a’lam bishawab
Mukti Widodo, MS ITB 2008, AAEI
jujur saja, entah mengapa akhir-akhir ini saya sangat berambisi untuk mencapai sebuah fasa atau state atau kondisi dimana saya ini “diakui” sebagai suatu “karakter” tertentu… (karakter yang positif tentunya)
dan saya sampai saat ini masih berjuang untuk menjadi karakter yang saya idam-idamkan itu…
semoga ambisi saya ini tidak menjerumuskan saya ke hal-hal yang buruk…
*waduh, blog ane jadi tempat curahan hati gini, hahaha
ada saatnya dimana idealisme itu harus disuarakan…
dan ada saatnya dimana idealisme itu harus disembunyikan
when you feeling down and thinking to give up your struggle
just remember the meaning of your own name…
E: Ega
K: Kerabat
E: bingung dah, perasaan di perguruan tinggi negara2 lain yg udah maju gak ada acara ospek2an gini dah. Kerjaan mahasiswa disono belajar dan riset doang. Kok disini repot banget ya kyknya pake acara-acara pendoktrinan “Peran Mahasiswa Untuk Negara” segala. Kenapa gak difokusin riset dan studi aja gitu, kalo gini terus kan mahasiswa Indonesia perkembangannya jadi lumayan terhambat -__-
K: ya wajarlah, pemerintahan negara mereka kan gak korup kayak disini
E: ……. (bener juga ya)
بسم الله الرحمان الرحيم
entah kebetulan atau tidak, ketika saya sedang buka-buka HP tiba-tiba muncul keinginan untuk buka notes HP saya
dan di salah satu notes itu, terdapat beberapa targetan. Namun ada 1 targetan yang benar-benar membuat saya tersentak
Hafiz Qur’an sebelum studi S1 selesai
Tiba-tiba terlintaslah semua progres kehidupan saya mengenai jalan menuju hafiz ini. Dan saya sadar, progres saya selama ini adalah limit mendekati nol. Bahkan kalo bisa, limit mendekati nol dari kiri, karena hafalan saya selama ini mulai banyak berguguran
WOI GA, KEMANE AJA LO!!!
بسم الله الرحمان الرحيم
Wah, sudah tepat 1 bulan gue baru bikin post lagi. Agaknya wordpress mulai terbengkalai, lol
kembali ke topik.. kenapa urang ngetik judul kayak gitu?
soalnya urang baru selesai UAS Praktik Olahraga
*loh, emang apa hubungannya UAS Praktik Olahraga sama babi banteng merah?
Jadi begini, barusan kan gue baru kelar UAS Praktik Olahraga. Praktiknya berupa lari 6 puteran non-stop dan baru dapet nilai A jika waktu yang ditempuh selama 6 puteran itu dibawah 14 menit…
Sebelumnya, udah ada testdrive yang dilaksanakan oleh dosen gue dan gue dapet waktu 14:30. Dengan waktu segitu, ya urang paling dapetnya klo ngga AB ya B.
Karena urang ngerasa nilai segitu belum maksimal, urang bertekad di UAS ini nilai urang harus A.
Lalu terlintaslah hal lucu di pikiran urang. Urang berniat mengonsumsi benda ini dengan harapan dapat membantu stamina urang dalam UAS Praktik Olahraga

nb: foto tsb hanya ilustrasi, yang saya konsumsi bukan banteng merah kalengan, tapi botolan.
Awalnya urang ragu-ragu karena sebelum mengonsumsi benda lucu tersebut, urang udah browsing-browsing ke beberapa sumber. Ternyata banteng merah ini ilegal di Provinsi Bangka Belitung dengan alasan gak terdaftar di BPOM Bangka Belitung
Paniklah urang, mana udah terlanjur beli. Masa mau dibuang gitu aja? Yaudahlah, urang akhirnya ngikutin niat aja. Kutenggaklah 1 botol kratingdaeng tepat 1 jam sebelum praktik olahraga dimulai.
Setelah urang tenggak, ternyata gak seperti yang urang pikirkan. Gak ada efek spesial yang signifikan ketika urang minum tuh banteng merah. Urang kira jantung bakal berdegup-degup terus otot jd kejang-kejang(red: gak bisa diem karena overpower), ternyata gak ada efek sama sekali.
Nah, kan udah tuh. Abis itu urang kan ke saraga. Abis itu UAS Praktik Olahraga deh, lari 6 puteran.
Semuanya terasa biasa-biasa saja…Sampai tiba-tiba, pas lari, urang ngenyalip temen urang yang pas test drive waktunya lebih bagus daripada urang. Kagetlah urang…
Di akhir praktik, urang dikasi tau sama temen urang yg ngitung waktu urang kalo waktu urang 12.46.
WTF
kok bisa? apakah ini karena efek taurine?
atau karena hanya sugesti?
atau karena Allah menghendaki?
Wallahualambishawab
nb: sampai sekarang efek kafeinnya masih terasa, buktinya saya belum bisa merem -__-
yang benar datangnya dari Allah, yang salah dari diri saya pribadi
بسم الله الرحمان الرحيم
Pertama-tama saya ingin minta maaf karena mungkin saja cerita ini sudah repost yang kesekian ratus atau bahkan ribu kali. Tapi apa boleh buat, hasrat untuk ngeshare cerita ini sangat besar, jd gue post aja deh di blog, jahahaha
Jadi begini ceritanya…
Pada suatu hari, Isaac Newton sedang menyelesaikan model sistem tatasurya buatannya. Beberapa saat setelah modelnya selesai, datanglah seorang rekan Isaac Newton (yang juga ilmuwan) yang kebetulan seorang atheist.
Terjadi lah sebuah dialog:
(dialog berikut aksennya sudah diubah biar lebih asik, tapi makna intinya sama)
IA: Ilmuwan Atheist
IN: Isaac Newton
IA: “wuidiih, keren banget nih model sistem tatasurya, elu yang bikin ton (maksudnya new”ton”) ?”
IN: “ngga, bukan gue yang bikin.”
IA: “terus siapa dong yang bikin? perasaan tadi terakhir kali gue masuk kesini ni model gak ada disini”
IN: “gue ngga tau siapa yang bikin, bukan gue, gak ada yang bikin model ntu”
IA: “ah, yang bener lu? lu gk salah denger perntanyaan gue kan?”
IN: “nggak”
IA: “terus siapaa? gak mungkin dong model tatasurya sebagus ini tiba-tiba muncul diruangan ini?”
IN: “hmmm, menarik”
IA: “opo sing menarik to toon ton?”
IN: “Bagaimana tidak menarik? Elu seorang atheist, yang mengingkari keberadaan tuhan, bisa berkata “gak mungkin dong model tatasurya sebagus ini tiba-tiba muncul diruangan ini”? Coba sekarang lu liat keluar jendela, liat kelangit (kebetulan ceritanya lagi malem), liat betapa banyak bintang dan planet-planet nyata yang bukan cuma sekedar model dan elu nggak percaya bahwa ada “sesuatu” diluar sana yang menciptakan benda-benda langit yang menakjubkan itu? sungguh menarik…”
IA: “……..”
konon katanya, ilmuan atheist ini besok paginya langsung berubah ideologi dari atheist ke monotheisme (gak dijelaskan monotheismenya spesifik ke agama apa)
gitu ceritanya, semoga memberi manfaat
yang benar datangnya dari Allah SWT, yang salah dari saya pribadi
